Sunday, January 16, 2011

Surat untuk Pria Takdir

Kepada pria yang ditakdirkan untukku.

Halo. Hari ini kotaku begitu cerah dan langitnya begitu biru. Bagaimana denganmu? Kamu tahu, saat ini aku sedang memikirkanmu. Mungkinkah kamu berada di kota yang sama denganku? Mungkinkah kita sedang mengamati langit yang sama? Mungkinkah kamu orang yang kukenal?

Apa kamu pernah, sekali saja, memikirkanku?

Sebelumnya aku ingin bertanya padamu. Percayakah kamu pada takdir? Aku percaya. Aku percaya kamu ada di suatu tempat, sedang dalam perjalananmu menemuiku. Kamu mungkin akan menghadapi banyak rintangan, kamu akan jenuh, lalu putus asa. Tapi kuharap kamu tidak berhenti berjalan. Karena ketahuilah, aku juga sedang dalam perjalananku, dan jika kamu dan aku sama-sama berjalan, akan semakin cepat kita bertemu.

Pria takdir, dalam perjalananku, aku akan menemui banyak lelaki yang salah. Dan akibat kebodohanku, aku akan menangis karena mereka. Maka kumohon saat aku bertemu denganmu nanti, jangan sekali-kali membuatku menangis. Sebab saat aku menangis karenamu, pada siapa lagi aku harus berharap?

Pria takdir, aku pun tahu, dalam perjalananmu kamu juga akan menemui banyak perempuan yang salah. Permohonanku hanya satu: jangan salah mengenali mereka sebagai aku! Sebab aku, meski hidupku akan sia-sia jika kehilanganmu, bisa bertahan dalam kesendirianku tanpamu. Tapi jangan kamu harap aku bisa melihatmu tidak bahagia bersama perempuan yang salah. Dan jika itu terjadi, aku hanya bisa mendoakanmu dari jauh. Bukan, bukan itu yang kuinginkan.

Pria takdir, berkali-kali aku berharap bisa menemuimu, dalam mimpi sekalipun. Tapi kata takdir padaku, belum saatnya. Aku yang sekarang belum cukup baik untuk menemuimu. Tentu saja kamu tidak perlu khawatir. Perjalanan panjang akan mengubahku, mempercantik diri dan hatiku.

Maka dari itu, pria takdir. Tidak perlu terburu-buru kamu mencariku, pun aku tidak akan terburu-buru mencarimu. Karena saat waktunya tiba, takdir akan menunjukkan jalan pintasnya. Dan saat itu kamu tidak perlu bersusah payah. Cukup sedikit berusaha (sebagai bocoran: aku suka pria misterius) dan aku akan menyayangimu apa adanya.

Surat ini akan kupajang dalam blog-ku dan kusebarkan melalui twitter. Bukan apa-apa, pria takdirku. Aku hanya ingin kamu bisa membacanya, sengaja atau tidak sengaja. Supaya kamu tahu bahwa aku, wanita yang ditakdirkan untukmu, ada dan akan selalu ada.

Dari yang selalu menantimu, Aku.

Wednesday, November 24, 2010

Lepas dari Maut (cerita pendek)

Lepas dari Maut
Oleh: Regina Helin Joanita

Tiga orang pria—Si Kumis, Si Pendek, Si Gendut—berlari dengan napas tak beraturan. Wajah mereka babak belur dan mencekam, seperti orang dikejar-kejar setan. Hampir benar sebenarnya, kecuali yang mengejar mereka adalah Maut.

Sudah beberapa hari ini mereka terus berlari tanpa henti. Dalam pelariannya, Si Kumis rajin mengajak kedua temannya berhenti dan beribadah. Bisa mengusir Maut, katanya. Benar memang Maut tak melahap saat mereka beribadah. Tapi bukan karena ibadah itu suci, bukan karena Maut tak bisa melahap mereka saat itu. Maut hanya tak mau berbaik hati, membiarkan mereka punya kesempatan mati dalam damai. Cuma beberapa menit Maut bertoleransi, setelahnya ketiga pria harus melanjutkan berlari.

Si Pendek rajin menyuruh kedua temannya merapal mantra-mantra sembari berlari. Bisa mengusir Maut, katanya. Sementara Si Gendut lebih sering ketakutan pada Maut dan fokus untuk berlari sekuat tenaga. Siapa tahu Maut menyerah, katanya.

Hari ini matahari tampak berkomplot dengan Maut, bersinar lebih terik dan lebih menyengat dari biasanya, menguras stamina ketiga pria. Bobot tubuhnya membuat Si gendut kehilangan stamina lebih banyak dari yang lain. Sesungguhnya adalah suatu keajaiban ia bisa mengimbangi yang lain sampai saat ini. Tapi kali ini ia benar-benar tertinggal di belakang, sampai pada akhirnya tak lagi mampu berlari dan menyerah.

Santap aku, Maut, kapanpun kau mau! teriaknya pasrah.

Atas nama solidaritas dan rasa senasib-sepenanggungan setelah berhari-hari berjuang bersama, Si Kumis dan Si Pendek pun menghentikan langkah mereka dan menghampiri Si Gendut. Mereka memutuskan menyerah bersama. Lagipula cepat atau lambat stamina mereka akan habis juga.

Santap kami, Maut, kapanpun kau mau! teriak mereka pasrah.

Semenit, dua menit, tiga menit… tidak terjadi apa-apa.

Beberapa menit kemudian masih tidak ada tanda-tanda kedatangan Maut. Para pria memastikan Maut telah berhenti mengejar mereka.


Sepertinya ia sudah lama pergi.
Pasti karena kita rajin beribadah!
Pasti karena mantra-mantra yang kita rapal!
Atau karena ia tidak bisa menandingi kecepatan kita?
Ah, peduli apa kita. Apapun alasannya, yang jelas kita telah LEPAS DARI MAUT!


Merasa senang, ketiga pria itu mulai menyanyi dan menari. Memetik bunga-bunga di pinggir jalan, menghamburkannya ke udara seperti hujan bunga, sambil terus menyanyi dan menari. Euforia kegembiraan dan kelegaan luar biasa. 

Berjam-jam merayakan lepasnya mereka dari Maut, mereka mulai lelah dan hendak beristirahat. Namun begitu mengatup bibir, seperseratus detik kemudian bibir mereka membuka kembali dan mulai menyanyi. Begitu menghentikan tarian dan hendak duduk, kaki mereka bergerak kembali dan mulai menari. Ketiga pria tak bisa berhenti menyanyi dan menari!

Begitu seterusnya, terus menyanyi dan menari hingga lelah, jauh lebih lelah dari pelarian sebelumnya. Terus menyanyi dan menari hingga sekarat.


Menyanyi dan menari hingga mati.

Loh, bukannya kita sudah lepas dari maut?!

Wednesday, November 17, 2010

Demi Apa?! Sumpah, Super Serius!

Helloooooou, finally gue nge-blog lagi loh! Udah lama banget nih ninggalin blog, keasyikan main di twitter hehehe. By the way, bermula dari keranjingan fiksimini dan ketemu temen-temen yang syuper (entah kenapa gue suka menyebutnya syuper pake y dibanding super nggak pake y), gue jadi keranjingan nulis fiksi. Yah baru sekedar cerpen dan flash fiction sih. Kemaren-kemaren (dan barusan tadi) gue post karangan gue di blog ini. Baca dan komen yaaaaaaa :)


Anyway belakangan ini gue memperhatikan gaya ngomong anak-anak gaul Jakarta.

Pertama, untuk membuka obrolan/gosip pasti diawali dengan:
"Lo harus tauuuuuu...."

Kemudian, temennya si anak gaul yang juga gaul ini akan menjawab dengan:
"Sumpah lo, demi apaaaaaa?!"

Di tengah-tengah percakapan, hampir 100% akan muncul kata ini:
"SUPEEEEER!"


Bagai sayur tanpa garam, bagai langit tanpa bintang, bagai HP tanpa charger, bagai twitter tanpa follower, percakapan apapun nggak maknyus rasanya kalo nggak pake kalimat-kalimat di atas. (Demi apaaaaa lo?! Sumpaaaah?!) Tapi sama kayak sayur yang komposisi garamnya bisa diganti, sama kayak banyak bintang di langit yang nggak tentu, sama kayak HP yang bisa selingkuh sama charger lain, sama kayak twitter yang... wait, tadi ngomongin apa yah?

Intinya, kalimat-kalimat di atas bisa fleksibel tergantung isi percakapan. Misalnya kalimat pembuka, kadang-kadang bunyinya: "Lo harus dengeeeeeer!" instead of "Lo harus tau!"

Baiklah pembaca sekalian, agar bisa lebih memaknai trend percakapan 2010, mari kita simak contoh yang berikut ini.


Contoh Percakapan

Anak Gaul 1: Eh sumpah ya, lo harus liaaaaaat!
Anak Gaul 2: Ih apaan sih apaan sih kamu unyu deh! (?)
Anak Gaul 1: Lo harus tauuuu, tadi tuh gue ketemu si X, dan dia tuh yang gendut banget gitu sekarang! Dan lo harus liat ekspresi mukanya pas ketemu gue!
Anak Gaul 2: Demi apaaaaaa lo? Sumpah sumpah sumpah! Dia bukannya yang dulu sok-sok diet gitu ya?
Anak Gaul 1: Iyaaaaa makanya!
Anak Gaul 2: Supeeeeer malu 2010 tuh!

Untuk direnungkan: Berapa kali muncul kata lo harus dalam percakapan di atas?


Selain 3 yang di atas masih ada beberapa lagi sih bahasa gaul yang lo harus tau, sumpah! Bahkan gue dan Tuning sempet iseng-iseng nyusun kamus bahasa gaul 2010. Sayangnya notes-nya gue tinggalin di kosan, dan gue sekarang lagi balik ke rumah. Btw rumah gue sekarang pindah ke Bandung loh! :D

Uuuups, udah jam 1! Segini dulu deh postingannya. Sampai ketemu di postingan gaul lainnya. Salam super gaul 2010!

Tuesday, November 16, 2010

Senja Merah, Aku Cinta (flash fiction)

picture: http://bit.ly/b19Bse

Senja Merah, Aku Cinta
Oleh: Regina Helin Joanita


Mungkin ini klise, tapi kamu memang yang terbaik, Sayang. Bukannya aku gila pemberian, tapi hadiah yang kamu berikan ini, membayangkannya pun aku tak pernah. Yah, bukannya benar-benar tak pernah, tapi kecantikannya bahkan tak sampai sepersepuluh dari semua ini.

Kamu tahu kecintaanku pada kecantikan. Bukan, aku tergila-gila padanya. Pada pelangi sehabis hujan, pada langit senja, dan pada kamu, ketampananmu yang luar biasa. Di hari ulang tahunku ini kamu bukan memberiku perhiasan, bukan pula boneka super imut yang kita lihat di etalase kemarin. Kamu tahu, kecantikan mereka semu. Sebaliknya, kamu menghadiahiku matahari. Matahari yang jatuh cinta pada bulan, tersipu malu dan pergi menjauh sebelum bulan datang. Matahari yang salah tingkah. Matahari terbenam. Pemandangan ini. Cantik! Aku cinta! Belum lagi wajah rupawanmu yang menemaniku sepanjang senja. Ah, siapa yang akan memberiku hadiah seperti itu kalau bukan kamu?

Sempurna! Ya, kamu bilang itu hadiah paling sempurna untukku. Kamu salah, Sayang. Ini hadiah paling sempurna untukku! Kamu tentu tak tahu, rupa kecantikan paling sempurna di dunia ini. Lima juta kali lebih indah dari ketampananmu. Aku menyebutnya cinta, tapi mereka biasa menyebutnya maut. Ya, maut!

Lihat, Sayang, kesempurnaan di depan kita: senja merah, lautan darah! Ah, tak lupa wajah tampanmu yang tergeletak di bawah kakiku. Kamu yang terbaik, aku cinta.

Tak Sabar Bertemu Denganmu - a short story based on fiksimini

picture: http://bit.ly/9gO9l1

Tak Sabar Bertemu Denganmu
Oleh: Regina Helin Joanita


3 Oktober, kehidupan sekarang.

Hari ini harinya, hari jadi kita. Belum, tapi kuharap begitu, hehehe. Aku terlalu percaya diri ya? Biarlah. Lagipula ya masak bibirmu yang rajin mengecupku itu akan mengatakan tidak?

Masih dua jam lagi aku bertemu denganmu, di ladang bunga yang tak sengaja kita temukan berdua beberapa bulan lalu, tapi rasa berdebar ini sudah menggangguku sejak semalam. Sekarang sudah dua jam aku membongkar lemariku, sampai kosong melompong dan kamarku jadi lautan baju, tapi belum kutemukan satu pun pakaian yang sempurna untuk kukenakan nanti. Akhirnya aku menyerah dan kuputuskan memakai kemeja biruku yang kamu sukai, warna biru lautan. Lagipula yang penting itu momen. Ya, momen, bukan penampilan.

Bayangkan kita di ladang bunga yang sangat kamu sukai, kamu bersama aku yang kamu sukai… ehem, kuharap sih begitu, dan aku dibalut biru lautan yang kamu sukai. Sempurna! Tentang yang aku sukai itu tak penting. Eh, tunggu, apa seharusnya aku membawa mawar untukmu? Ah, sudah terlalu banyak bunga di sana, pesona mawar tak akan sebanding. Sebaiknya aku membawa kue untukmu, pai apel yang kamu sukai.

Jadi rencananya begini: kita bertemu di sana, menikmati bunga dan angin sepoi-sepoi. Kamu akan bilang betapa cantiknya bunga-bunga, aku bilang kamu lebih cantik, lalu DOR! Kamu terlihat tak percaya namun bahagia, dan bibirmu tanpa ragu akan menjawab ya! Aku merengkuh dan mengecup pipimu. Kemudian kita akan piknik di ladang bunga, menyantap pai apel yang terasa berkali-kali lipat lezatnya karena ada kamu di sana. Sempurna!

Ah, sebaiknya aku bergegas membeli pai apel.

***

Pai apel sudah di tangan, waktu pertemuan kita masih setengah jam lagi. Tak sabar rasanya!

Dari toko kue aku hendak menyeberang jalan saat tiba-tiba sebuah mobil melaju cepat ke arahku. Begitu cepat hingga aku bahkan tak sempat terpaku memandangi, apalagi menghindar. Tiba-tiba tubuhku terasa melayang. Sial sial sial! Aku benci adegan ini! Adegan picisan di banyak sineron, basi!

BRUK! Terdengar suara keras bersamaan dengan tubuhku yang mati rasa.

***

Suara-suara riuh di sekitar membangunkanku. Mataku mencoba membuka meski yang tampak hanya bayangan samar. Kepalaku berat. Apa yang baru saja terjadi?

“Dia bangun!” seru seseorang di sebelahku. Samar kulihat jam di pergelangan tangannya. 15 menit lagi waktu pertemuan kita.

Terdengar teriakan panik sahut-menyahut dari kerumunan orang di sekitarku. Ada apa ini? Minggir, minggir! Aku harus bertemu dia! Minggir, aku buru-buru!

“Jangan sentuh! Mana ambulansnya?”

Ambulans?!

Ah, baru aku ingat. Mobil tadi, rasa melayang, tubuhku yang mati rasa…. Bangsat! Tiba-tiba rasa sakit mendera seluruh tubuhku. Kulirik tubuhku, samar terlihat warna merah menyelimutinya.

Tolong… tolong bawa aku padanya. Tolong, aku harus bertemu dia. Bagaimana dengan ladang bunga dan angin sepoi-sepoi? Bagaimana dengan wajah bahagiamu saat menjawab ya? Bagaimana dengan kecupanku dan piknik kita?Tolong bawa aku padanya!

Entah mereka tuli atau aku memang tak bersuara. Sial!

“Dia bergerak, dia bergerak!”

Percuma minta tolong. Lebih baik kurogoh kantongku dan mengambil handphone. Aku semakin kepayahan, kesadaranku memudar. Kutekan beberapa tombol. Sebelum kesadaranku hilang, masih sempat kulihat layar HP-ku.

To: Mentari
Tgu aku, pst akn mnemui km. Jnji.
Send?

Klik.

Message sent.

***

3 Oktober, kehidupan baru.

Hari ini hari yang membosankan seperti hari-hari lainnya, sebelum secara tak sengaja aku melihat kalender dan merasakan déjà vu. Hari ini! Sekelebat ingatan tiba-tiba menghampiriku, hampir semuanya dalam bentuk wajahmu.

Aku ingat semuanya. Hari ini harinya, yang harusnya terjadi bertahun-tahun lalu sebelum mobil sialan itu merenggut nyawaku. Ah, bagaimana bisa aku sempat melupakanmu!

Oh Dewa! Kemurahan-Mu sungguh tiada dua. Puji dan syukur pada-Mu atas kesempatan kedua ini. Aku tahu kami ditakdirkan bersama, aku tahu Kau menginginkan kami bersama! Wahai Dewa, hari ini aku akan menemuinya, seperti yang Kau mau.

Aku akan menemuimu hari ini. Mungkin tanpa ladang bunga, tanpa pai apel, tanpa kemeja biru lautan yang kau sukai. Setidaknya aku membawa diriku, aku membawa janjiku untukmu. Janji untuk menemuimu. Aku masih membawa kalimat yang harus kuucapkan, meski entah kali ini bibirmu akan menjawab apa. Aku masih akan mengecupmu meski tanpa piknik setelahnya, dan kuharap itu kecupan bahagia.

Aku bangkit dari tempat tidur. Tak kupedulikan penampilanku, aku hanya ingin cepat bertemu denganmu. Kulangkahkan kaki, begitu mantap, begitu tak sabar.

BRUK!

Loh? Lagi?

***

Déjà vuperasaan yang sama. Saat semuanya mulai memudar, sayup-sayup kudengar suara wanita panik, menangis.

“PA! BAYI KITA PA!”

Tolong…. Tolong bawa aku padanya….

***

Based on fiksimini:
Tak Sabar Bertemu Denganmu | Lupa kaki barunya belum kuat berjalan, ia terjungkal dari boks bayi. Kali ini tanpa reinkarnasi. –@reginahelin

Thursday, October 28, 2010

Cinta Dua Sosok - flash fiction

Cinta Dua Sosok
Oleh: Regina Helin Joanita

Dia pesaingku di pekerjaan malam. Kadang jadi rekanku, hanya bila ada pesanan khusus. Hampir tiap malam kami bertemu, ditambah beberapa kali pertemuan siang yang tak disengaja. Begitu kusadari, aku sudah jatuh cinta padanya.

Sosok malamnya begitu memesona, sungguh anggun dan sempurna, tak seperti kebanyakan dari kami. Ditambah kecerdasannya, tak heran ia pernah memenangkan beberapa kontes. Dulu, sebelum terjerat kesulitan ekonomi dan terpaksa melayani pria-pria bejat. Beberapa kali pertemuan siang, aku dibuat terperangah olehnya. Baju kasual, tanpa riasan, dan wajah yang luar biasa tampan. Entah mana yang kucintai, kecantikan atau ketampanannya.

Tiga hari yang lalu kuberanikan diri menyatakan cintaku. Malam hari, sebelum kami bergerilya di jalanan.

“Aku mencintaimu.”

“Yang mana?”

“Yang mana pun, aku mencintaimu.”

“Kau tidak mencintai keduanya.”

“Bagaimana kau tahu?”

Dia menghela napas.

“Dengar, aku juga mencintaimu. Tapi aku tidak mampu mencintai dua sosokmu.”

“Lalu yang mana? Mario atau Maria? Aku mau selamanya menjadi sosok yang kau cintai.”

Dia terdiam sejenak.

“Aku wanita dalam tubuh lelaki. Aku hanya terlalu pengecut untuk menunjukkan diriku pada matahari. Aku mencintai Mario,” katanya sambil merogoh kantong, seperti hendak mengambil sesuatu. Untukku?

“Kalau begitu ucapkan selamat tinggal pada Maria.” Kulepas wigku, kuusap lipstik di bibirku. Kutatap wajahnya. Begitu cantik, begitu indah. Tentu aku mau mencintainya, walau harus mengorbankan sebagian diriku.

“Aku mencintai Mario,” ucapnya lagi, “karena itu Maria harus lenyap.”

Tiba-tiba moncong pistol sudah menempel di pelipisku. Telunjuknya bergerak pelan menekan pelatuk. Yang terakhir kulihat adalah wajah cantiknya, kali ini berlumuran darah.

Malam ini aku mengunjunginya. Melayang di langit-langit kamar. Dari atas menyaksikannya bergumul dengan beberapa pria sekaligus. Pelangganku, dulu.

Kamu Tak Pernah Mengerti - sebuah cerita cinta konyol

Kamu Tak Pernah Mengerti
Oleh: Regina Helin Joanita

Kamu duduk di lantai, sambil membereskan barang-barangmu. Aku melucu, kamu tertawa sekeras-kerasnya, mengabaikan penghuni rumah yang lain. Aku suka tawamu. Selalu kubilang tawamu mirip Ringo, tokoh komik kesayanganku. Tapi kamu tak pernah mengerti.

Sudah lama sekali sejak aku harus absen melihat tawamu. Besok kamu pergi, ke negeri orang, menikmati hadiah kontes menyanyi yang kau menangkan itu. Ah, belum lagi nyanyianmu. Bagaimana hari-hariku tanpa alunan melodi yang selalu kamu senandungkan di tengah-tengah perbincangan makan siang kita?

Kamu tahu, tawamu hari ini terlihat lebih bersinar. Mendesakku untuk mengatakan sesuatu yang tersimpan sejak lama. Bahwa kamu bukan sekedar teman kecilku. Teman kecil macam apa yang selalu meneleponmu sebelum tidur, hanya untuk melucu sehingga bisa mendengar tawamu, lalu mengucapkan selamat tidur dan mimpi indah. Tapi kamu tak pernah mengerti.

Lagi-lagi kamu tertawa. Aku tahu suatu saat aku harus mengatakannya. Mungkin sekarang.

"Diana...."

"Ya?"

“Tawamu seperti Ringo, tokoh komik kesayanganku.”

Lalu kamu tersenyum manis. Katamu aku sudah mengatakannya berjuta-juta kali. Lagi-lagi aku gagal mengatakannya. Mungkin bukan sekarang. Setidaknya tadi kamu tersenyum. Kamu tahu, aku suka tawamu lebih dari apapun. Tapi melihat senyummu rasanya seperti perompak yang menemukan harta karun. Ah, rasanya aku juga pernah mengatakan ini. Tapi kamu tak pernah mengerti.

Malam semakin larut dan aku harus pulang. Kubilang aku tak ingin pulang, tapi kamu malah tertawa dan bilang ibuku yang paranoid itu akan ketakuan setengah mati. Ya, kamu memang tak pernah mengerti.

Sebelum tidur aku meneleponmu seperti biasa. Kamu tertawa, katamu aku kan baru saja pulang dari rumahmu yang terletak persis di depan rumahku. Aku bilang padamu ini rutinitas, aneh rasanya kalau tidak dilakukan. Aku bohong. Aku hanya mau mendengar tawamu, yang berapa kali pun kudengar rasanya tak akan pernah cukup.

Malam ini berbeda. Aku keluar ke balkon, dan menyuruhmu keluar ke balkonmu. Balkon kita berhadapan, seperti di komik-komik romantis milik adikku. Dari sana aku bisa melihat wajahmu, walaupun samar karena gelap. Kamu tampak tertawa geli, menertawakan yang sedang kita lakukan. Seperti roman picisan katamu.

Dari balkon aku berikan isyarat padamu melalui gerakan tangan, “Aku cinta padamu.” Kamu tersenyum manis. Jantungku berdebar kencang. Kamu mengerti? Tapi kamu malah menggeleng dan tertawa. Gelap, katamu, tidak kelihatan. Aku tersenyum, menghela napas. Mungkin bukan sekarang.

Pagi harinya aku siap terlalu cepat. Aku menyeberang ke rumahmu, kamu masih bersiap. Aku bilang padamu, kita bertemu di bandara saja, lalu aku pergi secepat kilat. Kamu tahu, aku membeli bunga untukmu. Hahaha, hanya beberapa tangkai yang mampu kubeli. Tapi aku selipkan kartu ucapkan di antara beberapa tangkai itu, kutulisi dengan sepenuh hati, “Tak sabar menunggumu pulang. Aku menyayangimu.” Kuharap kamu mengerti.

Di bandara kamu berdiri, tampak memesona dengan terusan kuningmu. Ah, warna yang sama dengan bunga yang kubeli. Sudah kuduga, kita memang sehati. Aku menghampirimu, memberikan bunga padamu. Kamu tersenyum. Bunga bermekaran di sekitarku, seperti adegan di kartun-kartun kesayangan adikku yang kutonton tanpa sengaja.

Lalu entah dari mana muncullah lelaki itu. Kamu memanggil namanya sambil tertawa. Tawa manis yang tak pernah kulihat, dan pipimu merona. Tanganku terkepal ketika melihatnya memelukmu. Lalu tiba-tiba saja dia bilang cinta padamu, bertanya padamu apa mau menjadi kekasihnya. Sumpah ingin kutonjok saja wajahnya waktu itu. Tapi kemudian kulihat kamu tersenyum, senyummu berkilauan seperti permata, lalu kamu menjawab iya.

Kamu dan dia berangkulan, aku berusaha menahan tinjuku. Kalian, masih berangkulan, menghampiriku. Kamu mengenalkan aku padanya.

"Johan, ini Dito. Pacarku."

Kini aku harus berusaha sekuat tenaga agar tidak kehilangan kesadaran.

Kamu tiba-tiba teringat pada bunga pemberianku. Kamu mengambil kartu ucapan yang terselip, lalu membacanya. Kamu tersenyum manis, tidak semanis yang tadi kamu berikan padanya, tapi tetap membuatku berdebar sejenak. Lalu kamu bilang aku sangat manis, kamu bilang kamu juga sangat menyayangiku dan akan sangat merindukanku. Tapi tanganmu menggandeng mesra tangannya.

Kamu melihat jam, terburu-buru melepas gandengan tanganmu padanya dan berkata harus pergi sekarang. Kamu merangkulku lama. Sekali lagi kamu bilang menyayangiku, lalu pergi dengan senyuman yang sangat kusukai. Tapi kamu tetap tak pernah mengerti.

Keheningan yang Memesona (versi 1) - sebuah cerita pendek

Keheningan yang Memesona
Oleh: Regina Helin Joanita

Hujan rintik-rintik. Aku duduk di teras menyesap kopi yang sudah dingin. Sudah satu jam aku duduk di sini. Kupejamkan mata, menikmati hawa dingin dan musik alam. Langit mengucapkan salam perpisahan. Ini musikku, pengantar pergiku.

Kulirik ruang tamu, melihat koper kulit hitam yang bertengger di dinding putih. Kuamati seluruh ruangannya, mungkin untuk terakhir kali.

Aroma kopi dingin membawaku pada tahun-tahun yang lalu. Kami yang memegang buku di tangan masing-masing, seakan sibuk membaca, ditemani hujan yang seringkali datang. Kami yang berkutat dengan pikiran masing-masing, mencari kata untuk diucapkan. Buntu. Akhirnya hanya keheningan yang bicara. Keheningan yang memesona.

Entah sejak kapan keheningan itu pecah. Kami mulai bicara. Lebih dari itu, kami mulai berteriak. Saling memaki, mengalahkan suara hujan. Darah mendidih di kepala, tak juga mereda melihat air matanya.

Dia yang pertama berhenti bicara. Dia yang berhenti duduk membaca di teras. Mungkin muak pada hujan, atau pada keributan, atau padaku. Sejak itu aku selalu duduk sendiri, masih ditemani secangkir kopi dan keheningan. Kadang-kadang buku. Tapi kali ini keheningan yang sepi. Pesonanya sudah menguap. Pesonanya sudah muak padaku.

Kami masih di sana, di rumah yang sama, cuma teras yang tak kami bagi. Entah kenapa kami bertahan. Entah apa yang dia tunggu. Entah apa maksud lirikannya padaku setiap pagi. Entah apa maksud bibirnya yang membuka, lalu mengatup tanpa sempat bersuara. Entah kenapa aku bergeming.

Pernah suatu pagi ia tersenyum kecil, membuatku seperti dihujani ribuan mawar. Manis, namun menusuk. Betapa ia masih mau tersenyum padaku. Aku yang bodoh hanya bisa terpaku, tenggelam dalam pikiran sendiri, lalu melewatkan satu kesempatan itu. Kesempatan terakhirku kelihatannya, untuk mengembalikan keheningan penuh pesona yang diam-diam aku rindukan.

Kusesap lagi sisa-sisa kopiku. Hujan bertambah deras, memberiku sedikit waktu tambahan untuk duduk di sini, menikmati hal-hal yang tak pernah kupedulikan selama ini. Betapa indah segala bunga-bungaan yang ia rawat di halaman, betapa banyak buah-buah jambu yang mulai matang. Ah, dulu kami sering membuat rujak dari jambu di pohon itu.

Kulihat barisan semut mengangkat serpihan makanan di lantai. Ada seekor yang terpisah, hanya bisa diam. Hahaha, seperti aku. Aku tersenyum pahit. Satu-satunya yang kusesali saat ini adalah diamku, kebodohanku, yang begitu kusadari sudah terlalu terlambat untuk mengubahnya. Tapi aku telah berubah, aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk berhenti diam. Kusesap kopiku, sesapan terakhir.

Lalu entah bagaimana muncullah dia, dengan segala pesonanya yang masih bisa membuatku terpaku sejenak. Dia duduk di sana, di kursinya, yang telah terbiasa kesepian sejak berwaktu-waktu yang lalu.

Tekadku menguap. Aku hanya bisa terdiam. Lalu aku mendongak dan langit begitu cerah, hujan telah berhenti. Langit tersenyum padaku. Tak begitu indah dibanding senyuman waktu itu, senyuman kecil yang aku lewatkan. Kali ini tak ada lagi yang boleh aku lewatkan.

“Aku merindukannya. Saat kita berdua, hanya keheningan yang bicara. Keheningan yang memesona.”

Aku menunduk sewaktu mengucapkannya. Tapi ada keinginan yang mendesak untuk melihat wajahnya, melihat… sesuatu.

Dan di sanalah yang kucari. Sebuah senyuman yang meruntuhkan benteng pertahananku. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, lalu kuberikan senyuman terbaikku padanya. Sungguh rasanya seperti melepas berton-ton beban dari pundak. Semua penyesalanku seakan menguap.

Setelah itu kami hanya diam, seperti dulu, berkutat dengan pikiran masing-masing. Kali ini kami tidak mencari kata untuk diucapkan. Hanya menikmati keheningan terakhir kami, keheningan yang memesona.

Aku tahu, sudah terlalu terlambat untuk mengubah apapun. Sejuta kata, sejuta senyuman yang kuberikan pun hanya akan berarti perpisahan. Sekarang hujan sudah berhenti, sudah kudapatkan yang kurindukan… inilah saatnya.

Aku bangkit, tersenyum padanya sejenak untuk terakhir kali, lalu mengambil koper hitam di ruang tamu. Ia mengantarku sampai di pagar. Tak ada lagi senyuman, hanya matanya yang sepertinya bicara. Aku terlalu kacau bahkan untuk sekedar mengartikannya.

Kulangkahkan kakiku menyusuri jalanan berbatu, sambil menendangi kerikil-kerikil yang menghalangi jalan. Belum apa-apa pikiranku sudah melayang lagi padanya. Kukira senyumnya telah mengangkat semua penyesalan, ternyata salah.

Hanya beberapa kalimat sederhana. Seandainya kalimat tadi kuucapkan lebih awal….

"...."

Samar-samar kudengar suaranya memanggil namaku. Aku berhenti, menoleh. Tak ada siapa-siapa. Tiba-tiba kudengar suara nyaring yang familiar, kemudian sesuatu membenturku keras. Aku terbang, terpelanting jauh. Kulihat langit kembali hujan, sebelum kemudian semuanya menjadi gelap. Ah, langit bernyanyi. Ini musikku, pengantar pergiku….

Friday, April 16, 2010

(Gue Keranjingan) Fiksimini

Fiksimini? Temen-temen yang punya account twitter mungkin merasa nggak asing dengan istilah itu, secara di twitter lagi demam fiksimini banget deh (atau gue doang?). Tapi mungkin ada juga temen-temen yang belum pernah denger soal fiksimini. Apa sih sebenernya fiksimini?

Sesuai namanya yang terdiri dari kata fiksi dan mini, fiksimini itu cerita fiksi dalam karakter yang minim. Kalo di twitter, otomatis kurang dari 140 karakter. Biarpun minim karakter, fiksimini adalah sebuah kisah pendek yang menyimpan ledakan, isinya nggak seminim karakternya. Biarpun hanya dituturkan dalam beberapa kalimat pendek, fiksimini bisa menimbulkan banyak kalimat lainnya di benak pembaca. Fiksimini adalah kisah yang mampu menggelitik pembaca, menimbulkan banyak persepsi dan fantasi.

Kalo menurut Bintang (@bbintangb): "Fiksimini—menurut gue—adalah gudang di mana granat-granat sastra disimpan. Kecil, tapi ledakannya membungkam, mematikan, sekaligus menggelitik."

Mengutip Agus Noor (moderator @fiksimini) dari sini, berikut adalah 14+1 diktum fiksimini:

14+1 Diktum Fiksimini
Oleh Agus Noor

Diktum Fiksimini 1:
Menceritakan seluas mungkin dunia, dengan seminim mungkin kata

Diktum Fiksimini 2:
Ibarat dalam tinju, fiksimini serupa satu pukulan yang telak dan menohok

Diktum Fiksimini 3:
Kisahnya ibarat lubang kunci, yang justru membuat kita bisa “mengintip” dunia secara  berbeda

Diktum Fiksimini 4:
Bila novel membangun dunia. Cerpen menata kepingan dunia. Fiksimini mengganggunya

Diktum Fiksimini 5 :
Fiksimini yang kuat ibarat granat yang meledak dalam kepala kita

Diktum Fiksimini 6:
Ia bisa berupa kisah sederhana, diceritakan dengan sederhana, tetapi selalu terasa ada yang tidak sederhana di dalamnya

Diktum Fiksimini 7:
Alurnya seperti bayangan berkelebat, tetapi membuat kita terus teringat

Diktum Fiksimini 8:
Serupa permata mungil yang membiaskan banyak cahaya, kita  terus terpesona setiapkali membacanya.

Diktum Fiksimini 9:
Seperti sebuah ciuman, fiksimini jangan terlalu sering diulang-ulang

Diktum Fiksimini 10:
Bila puisi mengolah bahasa, fiksimini menyuling cerita, menyuling dunia.

Diktum Fiksimini 11:
Ia tak semata membuat tawa. Karna ia adalah gema tawanya.

Diktum Fiksimini 12:
Kau kira fiksimini ialah kolam kecil, tapi kau tak pernah mampu menduga kedalamanya.

Diktum Fiksimini 13:
Di ujung kisahnya: kita seperti mendapati teka-teki abadi yang tak bertepi.

Diktum Fiksimini 14:
Pelan-pelan kau menyadari, ia sebutir debu yang mampu meledakkan semesta.

Diktum Fiksimini terakhir:
Lupakan semua diktum itu. Mulailah menulis fiksimini!

***
Tulisan Agus Noor tentang fiksimini juga bisa dibaca di sini.


Di twitter, demam fiksimini dimulai sejak @agus_noor memperkenalkannya di twitter, kemudian membuat account @fiksimini yang dimoderatori olehnya bersama @clara_ng dan @ekakurniawan. Siapa saja boleh mengirimkan fiksimini karyanya ke @fiksimini atau menggunakan hashtag #fiksimini supaya bisa dibaca banyak orang. Moderator @fiksimini akan memilih fiksimini yang dianggap bagus, kemudian me-retweetnya. Beberapa fiksimini yang di-retweet akan sedikit diedit apabila dianggap menggunakan kata yang kurang efektif.

Pertama kali membaca fiksimini (gue lupa karangan siapa dan nggak inget tepat gimana kalimatnya, jadi nggak berani ngutip), gue langsung terkagum-kagum. "Wow, apa ini!" Bener-bener cerita yang ringkas, tapi menyimpan kedashyatan yang luar biasa. Saat itu juga, tanpa tedeng aling, gue langsung follow @fiksimini. Tadinya gue minder banget mau ikutan nulis fiksimini, tapi akhirnya gue iseng-iseng nyoba. Semenjak berhasil di-retweet, gue semakin keranjingan sama fiksimini. It's super fun! Buat yang suka nulis, wajib nyoba banget deh.

Sampai saat ini, nggak tau deh udah berapa banyak fiksimini yang gue buat. Sayang, nggak semuanya gue dokumentasiin. Tapi gue mendokumentasikan beberapa fiksimini gue yang berhasil di-retweet sama @fiksimini. Silakan dibaca :)

***

Terdampar di pulau tak berpenghuni, makanannya habis. Dibuatnya api unggun, ia penggal tangannya, dipanggangnya.
 
(Fiksimini pertama yang di-retweet! I got so excited at that time!)

***

Malam ini bulan purnama. Gigi taring Robert mencuat keluar. Bukan, dia bukan werewolf, dia memang tonggos.

(One of my favorites! Jadi favoritenya Sogi Indra Dhuaja loh! :) Bisa dilihat di sini.)

***

Jadi badut bukan cita-cita Anto. Hanya saja ia menikmati setiap polesan bedak dan make up di wajahnya. Tanpa harus menjadi Anti.

***

E = mc2. Emosi = (kalo di) miss call-miss call (in terus).

(Jujur, gue nggak ngerti kenapa yang ini di-retweet. Soalnya buat gue yang ini sedikit nyampah. Waktu itu gue lagi bener-bener nggak punya ide dan iseng bikin ginian.)

***

Suatu hari pisang jatuh tergelincir kulitnya sendiri.

(Oh my God, yang ini di-retweet sama @haspahani!)

***

Serakah: Takut kehabisan, ia hirup udara dalam-dalam, ia habiskan sendirian. Ia tampung di paru2nya hingga pecah.

***

Masa depan: Sy nikahkan @cowok dan @cewek.... | Saya trima nikahnya. RT @penghulu | Sah? RT @cowok | Sah! RT @penghulu

***

Ingin tobat, tuyul beli wig.

***

Ranjang tak lagi tidur sendiri, baru saja ia membeli manusia king size untuk menemaninya.

(Jujur, gue merasa yang ini nggak orisinil. Sebelumnya sudah ada fiksimini yang memanusiakan benda dan membendakan manusia kayak gini. Yang kayak gitu banyak, tapi lebih bervariasi ceritanya.)

***


Bawang Putih dan Bawang Merah bertengkar tentang siapa yg dulu jadi primadona di pasar.

(Orang atau....)

***

"Terong terong, dijual terong!" | "Sekilo berapa?" | "Kita jualnya per jam, Tante."

(HAHA!)

***

Hari ini pak supir mengucap "Bismillah" sebelum berangkat. Hari ini ia tukar peran dengan kenek.

(Kali ini gue diedit. Dikurangi 1 kata aja sih. Aslinya ada kata "rupanya" di awal kalimat kedua.)

***

Kemarin matanya berair seharian. Hari ini matanya berapi-api. Menyimpan dendam kesumat.

***

Soto bikinan Ibu asin. Kata orang tandanya mau kawin. Padahal Bapak baru mati kemarin. Matinya misterius.

(This one is my favorite! Gue yakin banyak kalimat muncul di kepala yang baca. Ya kan ya kan! Hehehe.)

***

Pada yang mengetahui, dia pura-pura lelah dengan kepura-puraannya.

***

Hari ini aku mau pura-pura marah sama suami ah. Biasanya kalau begitu dia kasih aku 5 juta. Tunai.

***

"Aku minta maaf soal kemarin." | "Maafmu telat. Baru saja aku putuskan tidak akan memaafkanmu. Maaf ya."

***

Tadi itu 17 fiksimini gue yang berhasil di-retweet. Gue masih akan berusaha untuk bisa di-retweet selama gue masih keranjingan fiksimini. Dan sepertinya gue akan lama keranjingan, soalnya fiksimini mengingatkan gue kalo gue sukaaaaaaaaa banget menulis. Karena berbagai kesibukan, udah lama banget gue nggak nulis. Blog ini juga terlantar kan. Dan fiksimini memungkinkan gue untuk tetap menulis di sela-sela waktu yang gue punya.

Oh iya, fiksimini pernah masuk Kompas loh saking kerennya! Hehehe. Bisa dibaca di sini.

Seru kaaaaaan? Makanya temen-temen, ayo ikutan fiksimini! :)

Friday, January 1, 2010

Reiner Elano Yuwantoputra

Helloooooooooo people! Akhirnya gue ngepost lagi. Ah gue jadi malu, bahkan janji buat sering-sering ngepost selama liburan aja nggak bisa gue tepatin. Hiks :’(

Anyway gue punya kabar superduperextra-gembira-supercalifragilicticexpialidocious: MY BABY BROTHER HAS BORN! x) Setelah melalui berbagai pertimbangan, diputuskan bahwa namanya adalah Reiner Elano Yuwantoputra.

Sebenernya rencana awal waktu umurnya masih 4 bulan kandungan, namanya itu Redelco. Soalnya Mama suka banget sama Eric Delco (Adam Rodriguez) di seri CSI: Miami. Tapi Papa menolak mentah-mentah ide itu. Katanya namanya mirip obat batuk. Belakangan disadari kalo namanya juga mirip merk lem.

Percakapan telepon

Mama: Nanti aku dilem loh perutnya.
Papa: Loh, kok dilem? Pake lem apa?
Mama: Alt*co *becanda*
Papa: Oooooh, pantes kamu itu mau nama anaknya Delco Delco, ternyata diambil dari nama lem toh.

Menjelang hari-hari kelahiran, Opa ngasih ide nama buat si bayi: Redrigo. Gue dan Papa menolak demi kebaikan bersama. Namanya Spanyol banget, telenovela abis. Apalagi kalo disambung sama Elano. Redrigo Elano. Hm, tinggal nyari pacar bernama Rosalinda aja adik gue entar.

Mungkin ada yang nyadar kalo dari tadi nama yang diusulin selalu berawalan Re. Itu sengaja, dan gue adalah orang yang paling ngotot untuk ngasih nama berawalan Re. Soalnya nama depan gue Regina, dan nama depan si Exel itu Reinard. Jadi kita kakak-beradik namanya harus Re semua depannya :D

Soal asal-usul nama Elano, awalnya itu ide Papa.

Papa: Jadi nama bayinya apa nih, Gi?
Gue: Nggak tau. Tapi nama lengkapnya depannya harus Re. Terus panggilannya depannya harus E.
Papa: Oh kalo gitu Papa tau. Namanya Elano. Tahu nggak Elano artinya apa?
Gue: Nggak. Emang apa?
Papa: Eh-LAnang-NOngol
Gue: ….

Sampe si Ello (nama panggilan adik gue yang masih diperdebatkan) lahir pun nama Elano masih jadi bahan ejekan dan perdebatan.

Mama: Jadi nama anaknya apa nih, Yuwanto? Yang pasti Elano udah pasti ya, Elano bagus tuh.
Papa: Ya Elano bagus. Tapi artinya apa? Masak kasih nama anak Eh-Lanang-Nongol?
Gue: Enggak! Elano singkatan nama Papa-Mama aja. Kan kalo nama Egi, Helin artinya Helma-Indra. Nah kalo Elano artinya Elja-Antonius.
Mama: Ah iya bener juga tuh!

Ah, kasihan kamu adikku. Walaupun mereka bilang arti namamu itu Elja-Antonius, tetep aja arti yang sebenernya Eh-Lanang-Nongol.

Nama Yuwantoputra juga ada ceritanya. Awalnya, nama belakangnya itu Indraputra, diambil dari nama Papa. Adik gue si Exel juga membawa nama Papa: Yuwantoputra. Supaya nggak monoton, si Ello ini mau dikasih Indraputra aja. Tapi tepat pada saat mengurus akte kelahiran, Mama berubah pikiran.

Percakapan telepon

Mama: Yuwanto, nama anaknya Yuwantoputra aja yah, jangan Indraputra.
Papa: *I don’t know lah Papa ngomong apa*
Mama: Lah iya lah, masa kakaknya namanya Yuwantoputra, adiknya Indraputra. Beda bapak tah. Nanti malah dikiran suamiku ada 2 lagi, Yuwanto sama Indra….

Akhirnya diputuskan nama belakangnya tetap Yuwantoputra.

Ngomong-ngomong soal Papa, bokap gue itu memang aneh sekali.

Mama: *ngomong ke bayi* Aduuuuh lucunya kamu, Nak. Anak siapa ini, hm? Anak siapa?
Papa: Gi….
Gue: Ya?
Papa: Emangnya mamamu itu nggak tahu ya kalo itu anaknya dia? Mamamu itu eo yah.
Gue: …. Papa yang eo.

*Eo = bahasa sangaaaaaat halus untuk kata bego di keluarga gue.

Anyway kayaknya segini dulu postingan soal Ello. Haha, padahal tadinya gue bukan mau ngepost soal dia, malah berkepanjangan gini. Kalo jadi nanti gue upload deh fotonya. Ups, nggak berani janji lagi ah! Lihat aja di facebook gue, udah gue upload kok. Nanti bakal gue tambah.

Oh iyaaaaaaa gue lupa! HAPPY NEW YEAR 2010, people! Maaf yah tahun ini gue nggak kirim sms ke siapa-siapa. Nggak tahu kenapa rasanya nggak mood. Tapi gue tetep ngucapin melalui facebook, twitter, dan blog ini, dan gue tetep mendoakan tahun yang baik buat kita semua. Pokoknya wish us a happy happy happy and better better better year deh :) May God bless us in this new year. Semoga tahun ini nggak akan seburuk ramalan Mama Lauren. Let’s pray for the best of this world.

Cheers, all. I ♥ you all.